Rangkuman

Mengapa orang-orang tidak bersepeda sehari-hari?

Karena itu tidak ‘normal’, itu bukan mainstream.

Meskipun dalam dekade terakhir kita bisa melihat peningkatan jumlah orang yang bersepeda, total populasinya masih sangat kecil. Ini hanya populer dalam skala kecil, lebih kecil lagi yang bersepeda harian, sebagai sarana transportasi.

Orang bisa beralasan karena jarak, polusi atau berbagai hal lain yang sesungguhnya bukanlah persoalan. Namun begitulah pola “normalitas”. Sebagian besar orang akan menghindar melakukan hal yang tidak normal, dan memilih untuk melakukan hal yang normal, juga mengembangkan berbagai pembenaran, meskipun setiap hari banyak hal kurang baik dirasakan (dalam kaitan ini misalnya; kemacetan yang parah dan berulang, tingkat stress, pemborosan, dan lain sebagainya).

Mengapa bersepeda bisa tidak normal?

Karena tidak didorong dan dipertahankan untuk menjadi seperti itu.

Dulu, ada masa-masa dimana bersepeda adalah hal yang normal, sebelum secara bertahap ditinggalkan demi mengejar hal lain yang dianggap lebih layak untuk dinormalisasi; kendaraan bermotor.

Pertimbangan dari normalitas kendaraan bermotor ini tentu banyak, namun yang paling klise biasanya adalah demi pertumbuhan ekonomi.

Apa saja hal yang dibutuhkan agar bersepeda kembali normal?

Secara fisik, ini membutuhkan infrastruktur yang mendukung. Tidak selalu harus berupa jalur terpisah, namun adalah kombinasi dari jalan dan jalur, berbagai fitur jalan dan perjalanan, juga fasilitas pendukung yang membuat bersepeda aman dan nyaman bagi semua kalangan.

Aman ini berarti terhindar dari konflik kendaraan bermotor, baik itu secara fisik maupun psikis. Nyaman ini berarti digunakan secara leluasa, mudah dan menyenangkan. Bagi semua kalangan berarti bukan hanya kaum muda/dewasa, namun juga orang lanjut usia, anak-anak, difabel, tak peduli gender, kapan dan dimanapun.

Secara nonfisik, ini membutuhkan regulasi dan edukasi, baik dalam penggunaan fasilitas tersebut atau lainnya. Di level terdalam, ini membutuhkan niat, tekad, dan motivasi yang serius untuk merubah keadaan.

Bisakah kembali membuat bersepeda menjadi normal saat ini, di Indonesia?

Fakta yang paling menyedihkan adalah bahwa pertumbuhan infrastruktur fisik di Indonesia saat ini konon katanya hanya mencapai 5% saja dari kebutuhan. Dan yang seupil inipun sebagian besarnya pasti dihabiskan untuk kendaran bermotor, baik yang bersifat umum maupun kendaraan pribadi.

Tapi ini tentu bukan alasan. Yang penting sekali lagi adalah niat dan tekad. Ini dua hal yang sesungguhnya sering datang dari keterbatasan.

Mengapa jalur sepeda seperti yang ada disini jarang digunakan?

FYI, ‘jalur bersepeda seperti yang ada disini’ ini bukan hanya jarang digunakan di Indonesia, namun juga di semua negara. Sharrow (“share”: berbagi jalan, dan “arrow”: marka penunjuk bergambar panah), begitu kami menyebutnya, lebih sering memunculkan masalah ketimbang manfaat karena kesalah kaprahan.

Ini kerap diletakkan di lokasi padat kendaraan bermotor, dengan laju menengah-tinggi, sebelum diusahakan road diet; penurunan penggunaan kendaraan bermotor, yang terpadu.

Problem Sharrow muncul karena ini perlakukannya yang; seakan yang bersepeda butuhkan hanya cat dan marka, padahal sesungguhnya, ini bisa lebih luwes dari itu.

Di dunia pengembangan infrastruktur ada sebuah pemeo yang mengatakan bahwa,”Bila satu infrastruktur bertumpu pada marka, bisa dipastikan, itu adalah infrastruktur yang keliru”. Dengan kata lain, fasilitas bersepeda tak mungkin bisa dicapai hanya dengan membubuhkan marka.

Lalu, kenapa praktek Sharrow seperti ini bisa sering dilakukan?

Faktanya memang, beberapa negara termasuk Belanda menggunakan sharrow. Namun, sebagian besar ini diletakkan di jalan yang sejak awal sudah dikondisikan (melalui infratrukturnya) agar dilalui oleh lebih sedikit kendaraan bermotor, dengan laju kecepatan rendah.

Di banyak lokasi beresiko tinggi, sharrow sudah digantikan oleh jalur bersepeda terpisah yang tersinergi antara satu dengan lainnya.

Penggunaan Sharrow secara berlebihan seringnya memang dipilih sebagai cara yang instan, mudah, murah, dan ‘normal’ untuk terlihat memasyarakatkan bersepeda.

Advertisements