Teror Crankenstein (1)

Crank, celana panjang, bersepeda di abad 20, dan persoalan yang mungkin tidak terlalu penting dalam kisah tiga babak.

Babak Satu: Sergapan Crankenstein

Begitulah peristiwa itu terjadi. Apa yang saya sebut sebagai Sergapan Crankenstein.

Anda tahu kan crank sepeda?

Open Crank
Crank (dilafalkan ‘kréng’) yang terbuka. Sejatinya untuk tipe bersepeda occasional (sebagian besar untuk tujuan olahraga) namun populer dan dianggap ‘normal’ untuk tipe bersepeda kota (harian)

 

dan anda pasti bisa membayangkan bagaimana ujung celana panjang membelai-belai gerigi crank yang terbuka di setiap gowesan? Menggodanya seakan dia makhluk yang innocent, yang akan hirau dengannya. Tanpa mengetahui bahwa dalam situasi terbuka seperti itu dia layaknya monster ciptaan ilmuwan gila Franskenstein, yang tercipta demi obsesi yang tragis sehingga malah menghancurkan apapun yang dekat dengannya. Dalam hal ini adalah ujung celana panjang.

Dua kali dia menyergap ujung celana saya. Menyisakan terobosan fesyen paling boros sumber daya dari peradaban modern, jadi seonggok material yang tak bisa lagi digunakan selain, well, celana pendek atau lap.

Rangkaian tragedi yang cukup menganggu. Karena tak mungkinlah saya terus-terusan menggunakan jersey atau celana pendek. Bagi orang yang bersepeda sehari-hari yang betisnya tak begitu mulus seperti saya (alah!), bercelana panjang itu tak terelakkan. Dan sungguh tak mungkin, bila semua koleksi celana panjang saya rusak, atau musnah, karena bersepeda.

Apa sebetulnya masalahnya? Bagaimana ini bisa terjadi? Dan bagaimana caranya supaya korban tak berjatuhan? Bagaimana oh mengapa.

Tidaakkk!!

squirrel-nooooooo
Bro, you got cranked!

 


Babak Dua: How to Raise A Monster

Syahdan suatu ketika, ada satu masa dimana sergapan Crankenstein sangat jarang terjadi.

Ini adalah masa-masa dimana dia diisolasi, ditempatkan didalam ruangan tertutup, rapat. Sehingga bukan saja secara fisik terlindungi dari gangguan kotoran yang ada di sepanjang perjalanan, namun juga godaan moral, dari berbagai pikiran bejad tuk menyentuh dan menghancurkan benda di dekatnya.

Ini adalah waktu dimana sepeda dilengkapi dengan chain guard. Fully closed chain guard. Dan sebagian besar orang menggunakan sepeda seperti itu. Situasi dimana orang-orang bisa bersepeda dengan begitu damai karena most things is in its place.

Dan sebetulnya, di beberapa negara maju dimana bersepeda saat ini adalah keseharian. Mayoritas orag yang bersepeda menggunakannya seperti itu. Ya, pada dasarnya karena selain selain lebih minimal konflik, ini juga minimal perawatan, dan bikin awet,  terhindar kotoran, selalu bersih.

4795176218_6fc04e22a0_b
Crank dalam isolasi yang gagah
800px-bicycle_in_the_hague_25
Bersepeda dengan crank, bukan Crankenstein. Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/City_bicycle

Namun, di negara seperti dimana saya bersepeda saat ini. Yang sejak sekitar 4 dekade yang lalu terperangah dengan kendaraan bermotor pribadi, dan sampai sekarang. Sedemikian rupa sehingga hampir semua ruas jalan dan sistem lalu lintas dibangun agar dipadati dan dikuasai secara semena-mena oleh mereka, crank sepeda yang terbuka mendapatkan kewajarannya. Ini adalah normal. Beberapa mungkin menganggapnya sebagai sebuah keharusan, atau keglamoran, bak memelihara Cihuahua, atau kucing angora yang prestise.

Dan seperti ikan yang tidak sadar bahwa dia berada di dalam air, orang-orang yang menerima hal ini sebagai taken for granted (seolah ‘sudah dari sononya begitu’) tidak bisa merasakan adanya Crankenstein, bahwa yang dibawanya kemana-mana adalah teror.

Ini tentu bisa dimafhumi, karena mempertanyakan sesuatu dalam situasi seperti ini akan terlihat sebagai sebuah aksi yang bodoh, kalaupun tak bisa dibilang aneh atau berlebihan.

Dan alih-alih memperkarakan sang monster, orang-orang lebih sering melihatnya sebagai persoalan celana. Sedemikian rupa sehingga memunculkan ceruk baru. Para ‘problem solver’yang (beberapa) begitu berdedikasi. Baik itu dalam skala individual maupun industri, dalam menciptakan produk-produk penangkal masalah. Dan orang-orang galau. Yang setengah mati mencari jalan untuk mengamankan celana.

Bersambung (Chapter 3 : Masalahnya, Kita Tak Tahu Masalahnya Apa – Review produk-produk penangkal Crankenstein)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s