Walau Habis Terang

Sharing pengalaman menjajal beberapa jenis lampu sepeda.

Selama tahun-tahun saya bersepeda, ada satu masa dimana saya sangat memikirkan persoalan penerangan sepeda. Bukan hanya lampu depan, namun juga lampu belakang dan lampu sein.

Apa yang mendorong saya jadi seperti itu? entahlah. Waktu itu saya mungkin lebih sering keluar malam, lebih banyak kekhawatiran, mungkin juga lebih banyak uang ­čśë.

Meskipun sepeda sudah dilengkapi reflektor; depan ÔÇô belakang, termasuk di bagian pedal, yang pastinya memantulkan sinar dan menguatkan visibilitas dari kejauhan, ada memang masa-masa dimana hal-hal tersebut dirasa tak mencukupi.

Dan berikut catatan mengenainya:


Lampu depan: Power Beam

Percobaan pertama, yang murah dulu, merk Power Beam. Waktu itu saya langsung beli 5 atas pertimbangan yang tak terlalu masuk akal kalau dipikir lagi sekarang ;-). Dari sekian banyak, satu langsung tak terpakai karena dudukan plastiknya langsung putus sewaktu dikencangkan. Sisanya, oh la la, tak cukup terang ternyata. Berbanding terbalik dengan jumlah baterai yang boros. Sungguh terlalu. Walhasil sisanya itupun tak pernah saya buka sekalipun dari dus, bahkan sampai akhirnya semua saya donasikan ke bengkel sepeda langganan.

Lampu depan: Cat Eye HL-EL135

Nah kalau yang ini memang produk recomended. Harganya relatif mahal, seratus ribu-an lebih, dengan nyala super terang. Jauh lebih efisien dibanding lampu sebelumnya mengingat hanya menggunakan 2 baterai. Dengan bodi yang ringkas, desain streamline dan compact, juga awet, saya pikir pantas-lah dia menyandang harga segitu.

Lampu belakang solar/tenaga matahari

Waktu itu beli kalau nggak salah 65 ribu-an, sekarang sih yang 30 ribu-an juga ada di toko-toko daring. Sering juga disebut lampu UFO.

Nggak perlu baterai atau di-charge dan ada kuncian di dudukan lampu untuk memudahkan dilepas (bagian lampunya) bilamana diperlukan. Saya pikir boleh juga, desainernya bisa mengapresiasi resiko pencurian dan pede mengadaptasi hal tersebut kedalam desainnya.

Ada tiga jenis nyala yang bisa dipilih. Kedip, kedip cepet dan idle (nyala terus). Sebagai catatan saja, ini lampu belakang yang tidak berfungsi untuk menerangi jalan. Tugasnya hanya memberikan tambahan tanda saja bagi pengemudi/pengendara yang berada di belakang.

Dan anyway, produk ini punya kombinasi yang paling saya suka. Praktis, ramah lingkungan, well design, harga relatif terjangkau, dan bekerja sesuai dengan yang dijanjikan. Dengan sederet kepuasan seperti itu tak heran kiranya bila dia nyantol di tiang sadel dalam waktu yang lama… sampai akhirnya raib di parkiran kampus begitu saya lupa tak melepaskan kunciannya, tapi tak lama berselang saya ganti dengan yang baru, saking sukanya.

 

Lampu Sein Handlebar

 

Di masa-masa ini pernah pula saya kepincut sama ide lampu belok/sein. Setelah baca sana sini, akhirnya saya putuskan buat mencoba jenis handlebar light. Saya pikir ini akan cocok, mengingat saya menggunakan sepeda balap dengan ujung stang menghadap ke belakang, sehingga memungkinkan cahaya terlihat langsung oleh para pengendara di belakang.

Dengan banyak pilihan warna, dan sudut lengkung dari desainnya, saya pikir ini juga akan menolong memberikan aksentuasi sehingga tampilan ujung handlebar bisa lebih elok.

Namun oh la la. ternyata setelah dicoba, rasanya kok kurang praktis ya. Pergelangan tangan harus terlebih dahulu digerakkan cukup jauh ke ujung kanan atau kiri bawah untuk menyalakan, atau memilih nyalanya seperti apa.

Dan bukan hanya itu. Akibat dari perubahan tumpuan beban yang terjadi tiba-tiba ini bisa menyebabkan sepeda agak oleng. Belum lagi ditambah dengan proses menekan tombol – yang jujur, tak terlalu smooth, butuh tekanan cukup dalam sehingga memberikan tambahan beban secara serentak, pada stang yang tengah dipegang hanya oleh satu tangan.

Saya tidak tahu bagaimana/sejauh mana efeknya bagi para pengguna stang lurus. Saya pikir mungkin bisa lebih baik bila dikondisikan gerakan yang lebih kecil untuk berinteraksi dengannya. Seperti proses mengaktifkan bel sepeda. Nggak usah geser pergelangan tangan terlalu jauh.

Namun seperti apapun itu, yang jelas kondisi ini membuat penggunaannya jadi terasa kurang nyaman dan aman. Dan karena itulah barangkali mengapa akhirnya lampu ini ngendon di ujung handlebar tanpa sekalipun kembali berusaha diaktifkan. Saya sudah terlalu malas buat mengganti baterai, pun tak mau lagi berurusan dengan solusi yang kemudian mendatangkan masalah baru, apalagi bila seharusnya itu bisa dilakukan secara lebih praktis,

Dan begitulah, masa-masa penjajalan lampu sepeda ini secara berangsur menghilang. Mungkin karena saya udah capek nyobain. Bisa jadi karena saya sudah tak terlalu parno lagi dengan kekurang terangan. Atau mungkin juga disebabkan karena saya sudah tak lagi merasa worthed untuk menekuni persoalan penerangan sepeda.

Lagipula saya bersepeda di kota, bukan di daerah terpencil yang jarang penerangan. Semakin hari memang saya semakin jarang bersepeda malam. Kalau bersepeda malampun nggak pernah jauh jauh, dan seperti ditulis di awal, sepeda saya sudah dilengkapi oleh berbagai reflector yang mungkin sudah mencukupi untuk penggunaan sebatas itu.

Bahkan ketika beberapa bulan yang lalu, seorang tetangga newbie terlihat membutuhkan lampu belakang, tak ada sedikitpun perasaan bersalah atau berkekurangan ketika lampu UFO favorit, saya berikan padanya.

Ya sudahlah. Suatu saat mungkin disambung lagi, tapi untuk sementara, saya puaskan, sebegitu dulu perjalanan saya menjajalnya. Mudah-mudahan catatan ini bermanfaat, terutama untuk para pembaca yang saat ini tengah dilanda galau dengan penerangan sepedanya.

Selamat menjajal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s