Sudah Sepedaan Kemana Aja?

Pertanyaan bersepeda zaman now, explained.

Seperti berkuda yang konon katanya digantikannya. Sejak jaman doeloe orang-orang bersepeda untuk beragam tujuan, dari mulai transportasi sampai dengan olahraga, dan juga barangkali pamer status.

Namun, barangkali tidak ada masa dimana bersepeda sebegitu terbagi seperti jaman now.

Kini kita bukan hanya punya ‘siapa’ yang bersepeda (anak-anak, ‘katanya’ perempuan, laki-laki, dsb), namun juga bersepeda untuk keperluan/tujuan apa (transportasi, olahraga) dalam level yang lebih rinci. Bukan hanya ‘olahraga’, namun juga ‘olahraga apa’ (balapan, gegunungan, downhill, bmx, etc), bukan hanya transportasi, namun juga ‘transportasi seperti apa’ (city bike, sepeda lipat, sepeda listrik, dsb).

Masing masing ‘genre’ ini, bila kita bisa katakan begitu, berkembang dengan penggemar, teknologi, pencapaian dan hal-hal penting untuk masing-masing.

Bila sebagai olahraga pegunungan, tanjakan dan pudunan adalah prioritas. Bagi para ‘turis bersepeda’ (baca: pesepeda touring) yang lebih penting barangkali lokasi baru dan jarak tempuh. Begitupula bagi orang dengan tujuan sebagai sarana transportasi sehari-hari. Bagaimana jarak antara berbagai lokasi kerja, belanja, dan lain sebagainya bisa ditempuh secara rutin dengan bersepeda, adalah hal yang paling penting diantara hal lainnya.

Dengan kata lain, meskipun sama sama bersepeda, sama-sama menggunakan jalan perkotaan, dan terkadang berpapasan atau bahkan berbarengan, hal yang penting di satu genre belum tentu penting di genre lain.

Yang menarik adalah nampaknya sebagian masyarakat (termasuk diantaranya orang yang bersepeda itu sendiri) yang tidak bisa melihat keragaman ini, sehingga memungkinkan munculnya fenomena kebahasaan yang unik ketika berinteraksi dengan orang yang bersepeda.

Salah satunya adalah pertanyaan:

Sudah sepedaan kemana aja?

You see. Ini adalah pertanyaan yang mungkin biasa saja bagi para pesepeda touring, atau pesepeda gunung, atau siapapun yang pencapaian bersepedanya diukur berdasarkan pada pencapaian jarak atau lokasi baru. Melalui pertanyaan ini, responden diharapkan memberikan jawaban lokasi A, B, C atau D, yang diantaranya mungkin bisa disambungkan dengan topik lain dalam mengalirkan percakapan yang dimulai oleh sang penanya.

Namun seringnya, ini dialamatkan tidak hanya untuk para pesepeda touring atau mountain bikers, ini dialamatkan pada semua orang yang terlihat bersepeda.

Dan ini melahirkan situasi yang unik. Karena bagi pesepeda harian, ini seperti menanyakan

Sudah jalan kaki kemana aja?

Kepada orang yang sehari-harinya kemana-mana berjalan kaki.

WTF?

Mungkin, bagi para penanyanya, pertanyaan ini layaknya semacam kartu pas ‘universal’, yang bisa berlaku untuk semua medan, tinggal ‘rogoh kedalam tas perbendaharaan bahasa, keluarkan, dan anda aman dalam pembicaraan.

Atau mungkin, di benak penanya memang tidak ada keragaman dan perbedaan tujuan dalam bersepeda. Di bayangannya semua orang yang bersepeda barangkali sama, menekankan pada jarak tempuh dan lokasi baru.

Seperti apapun itu. Dalam situasi ini, seperti yang sering saya alami sendiri, ketika setengah mati saya berusaha membayangkan apa yang dimaksud penanya dan mengemukakan jawabab sederhana seperti ini:

Tidak kemana-mana, tapi udah kemana-mana

Penanya seperti nge-blank. Sehingga saya kemudian mempertanyakan ulang jawaban tersebut. Yang bahkan ketika saya berusaha menguraikannya, dengan harapan ada jawaban yang lebih reasonable, atau menjawab pengharapan sang penanya seperti:

Ehm, ke Alfamart, ke kampus, ke gelanggang lari ….

Nampaknya tidak memecahkan persoalan.

Ada gap komunikasi disini. Yang satu bingung kudu menjawab dan merespon apa, satu lagi kandas harapan, dan mungkin kurang puas dengan jawaban yang ada.

Saya tidak tahu apakah sang penanya kemudian sadar bahwa dirinya telah mendaratkan kami pada jebakan bahasa, atau karena ulahnya itu, situasi kami berdua jadi terasa aneh. Jujur, bahkan setelah berulang kali ‘terjebak’ oleh ulah mereka (saya sendiri selalu berusaha tidak menanyakan pertanyaan ini, sebagian karena saya tahu situasi, sebagian karena saya tak peduli mereka sudah kemana saja) sampai sekarang saya benar-benar tidak tahu respon apa sebetulnya yang cocok.

Di kebanyakan situasi, hanya pengalihan ke topik lainlah, dan mungkin mood yang relax dan guyon-lah yang  bisa menyelamatkan kami dari situasi yang aneh tersebut.

Mudah-mudahan dengan mencatatkannya disini, ada orang yang membaca, sehingga kedepan saya bisa terhindar darinya. Namun, lepas dari itu, ini adalah pertanyaan yang sangat zaman now. Setidaknya buat saya, ini sangat menggambarkan situasi bersepeda saat ini. Keragamannya, dinamikanya, dan kesimpang siurannya, yang mungkin lucu, namun lumayan tragis juga kalau dipikir-pikir.

Tapi bagaimanapun juga, begitulah situasi bersepeda yang kita punyai saat ini.

Mari kita catat, nikmati dan sukuri saja.

 


 Dan oya, kami mengabadikan pertanyaan zaman now ini kedalam beberapa produk. Silahkan mampir kesini, dan pilih. Ada poster atau kanvas untuk mengingatkan. Ada juga mug dan tshirt yang bisa anda pakai, dan mudah-mudahan ‘menyelamatkan’. Menghindarkan anda dari random question atau orang yang gemar membuka percakapan melalui random question semacam itu. Silahkann

 

 


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s