Sepedaan Yuk? Biar Dapet Mobil

It won’t work. Pada dasarnya karena tak masuk akal. Begini penjelasannya:

Pertama: Persoalan mengapa orang enggan bersepeda secara rutin di dalam kota adalah tidak mendukungnya situasi untuk melakukan hal tersebut.

Ini dari mulai yang bersifat nonfisik (pengaturan dan peraturan lalu lintas dan perparkiran, dan lain sebagainya) maupun fisik (pengadaan jalur, lajur, dan lain sebagainya).

Secara teknis tidak mudah untuk mengorganisir acara yang secara simultan menghadapkan banyak orang pada situasi yang tidak memadai seperti itu. Konflik, baik itu yang bersifat fisik (keserempet, nyaris keserempet, tertabrak, nyaris tabrakan dan lain sebagainya), maupun psikis (umpatan, makian, ejekan, cemoohan, karena menyulitkan pengguna jalan lain, dsb) sangat rawan terjadi.

Saya kira bahkan bila bisa diusahakan pengawalan petugas lalu lintas, mereka akan kerepotan bila hal acara ini dilakukan terlalu sering. Seperti mengorganisir acara karnaval. Coba bayangkan bila hal seperti ini berlangsung setiap bulan, setiap minggu, dan di beberapa tempat sekaligus. Masak iya kita kehabisan petugas lalu lintas cuman buat ngurusin itu? dan masa iya para petugas itu bersepakat dengan hal tersebut? emang kerjaan petugas cuman kawal mengawal orang bersepeda?.

Ini sungguh tak masuk akal.

 

Kedua: Mobil Pribadi Adalah Bagian dari Persoalan.

Sebaliknya dari hal di atas, dari mulai tarif parkir yang begitu murah, regulasi parkir yang nyaris tak bekerja, sistem pembelian dan pengadaan, dan administrasi yang masih saja bisa begitu dimudahkan (baca: korup), situasi yang ada begitu mendukung orang untuk menggunakan mobil pribadi. Sedemikian ‘mendukung’ sehingga bukan saja orang-orang bisa semena-mena dan berlebihan dalam penggunaan, namun bahkan ketika orang-orang ini merasakan dampak buruk dari hal tersebut setiap hari, entah itu melalui ketidak efisienan penggunaan, keadaan yang stressful, berkurangnya kesehatan dan lain sebagainya, mereka sulit mengendalikannya.

Bahkan bila topiknya adalah mengenai kepemilikannya, sebagaimana yang mungkin disasar oleh iming-iming ‘hadiah’. Mengisikan lebih banyak mobil pada situasi seperti ini sudah barang tentu tidak memecahkan masalah.

Ini tidak membuat orang lebih mudah bersepeda. Malah lebih sulit. Karena bahkan, untuk orang yang cukup beruntung mendapatkan hadiah mobil tersebut, kini ada alasan tambahan untuk tidak atau mengurangi bersepeda. Ya. Karena sekarang ada mobilnya ada di depan mata tho?

Dan bahkan bila kita membayangkan hadiah mobil ini kemudian bisa dijual demi kebutuhan lain. Sungguh akan lebih praktis dan menyenangkan bila sejak pertama hadiahnya adalah uang saja, mungkin dalam bentuk tabungan.

Dan bilapun kita bisa mengandai-andai hadiah mobil ini, untuk beberapa profesi seperti driver misalnya, keberadaan mobil memang penting, kenapa pula tidak dibikin sebagai acara yang lebih spesifik? kompetisi bersepeda khusus untuk para driver? fokus pada olahraga, dilakukan di gelanggang atau ruang olah raga, berhadiah kendaraan yang memang mereka butuhkan untuk menunjang karir mereka. Lebih tepat guna bukan?

Tapi seperti apapun itu, jujur saya sulit membayangkan kondisi di masa depan seandainya usaha ini berhasil. Kita bakal punya ‘masyarakat bersepeda’ berapa? 100? 150? 200? 5? 10? persen populasi, yang berbondong-bondong memadati jalan (yang notabene milik publik luas) di setiap minggu, bulan, tahun, diantara pengawalan petugas lalu lintas, demi bayangan mendapatkan hadiah mobil?

Oh My Goodness. Ini terlalu sureal. It can not be true. It’s horrible.

Dimanapun, bahkan di negara yang lebih maju transportasinya, tak ada terjadi hal seperti itu.

Pendek kata, menambahkan kehadiran mobil sebagai sudah barang tentu tak akan menolong, karena sejak pertama mobil itulah justru sumber masalahnya.

 

Ketiga: Jebakan Bahasa

Apapun yang kita kerjakan, kehidupan nyata tak pernah benar-benar dan sepenuhnya ‘fun’. Ini adalah realitasnya. Pacaran, terkadang fun terkadang merepotkan. Bermain, kadang fun kadang bertengkar. Traveling, kadang fun kadang frustasi (apalagi giliran kehabisan duit ;-)). Dan bersepeda juga begitu. Kadang seru kadang juga kontemplatif, Kadang fun, kadang tidak. Dan itu biasa saja, karena pada dasarnya, rutinitas itu dinamika dari banyak faktor yang seringkali kontrakdiktif. Yang sepenuhnya bisa ‘fun’ itu mungkin hanya ada di iklan, foto kartu pos, dan film kartun.

Faktanya, desain tata kota yang kompak, dukungan infrastruktur yang maksimal, penetapan peraturan yang disiplin, ada banyak data yang mendorong banyak orang untuk bersepeda di kota, namun tak ada satupun penyebabnya adalah ‘fun’.

Dan penggunaan bahasa yang berlebihan seperti ini sesungguhnya menghadapkannya pada persoalan yang tidak perlu. Seakan-akan perbuahan prilaku secara massal itu semata persoalan kebahasaan. Seakan-akan orang bisa dibrain-wash mindsetnya dengan makna tertentu, dan melupakan berbagai persoalan yang setiap detiknya mereka rasakan.

Either the way para inisiator acara ini belum pernah ketabrak, atau nyaris ketabrak, atau serempet mobil atau motor ketika bersepeda, atau keduanya, mereka gagal faham. Mereka berusaha memandang persoalan melalui kacamata iklan, film, atau worst, kartun.

It won’t work.

 

Keempat: Jalan untuk membuat orang lebih banyak bersepeda itu sudah jelas.

  • Utamakan dan mudahkan penggunaan sistem transportasi umum dan kendaraan pribadi selain mobil
  • Taruh di ujung penggunaan mobil pribadi.
  • Sediakan dan atur agar baik yang diprioritaskan maupun yang ditaruh di ujung sama-sama aman dan nyaman.

Itu saja.

Kalau ada yang lain pasti nggak nyambung. Kalau nggak berusaha disambung-sambungkan hanya akan ada dua kemungkinan. Pertama itu hanya dagelan, yang masa depannya hanya ada di film kartun, atau kedua, ditunggangi oleh kepentingan lain.

Seriously, khusus mengenai yang terakhir ini, kenaikan minat masyarakat terhadap bersepeda, sama seperti banyak ‘gelombang’ atau trend, yang melibatkan banyak masyarakat, adalah hal yang sangat mungkin ditunggangi oleh berbagai kepentingan.

Tujuan individu, atau sekelompokk kecil orang yang seringnya, bukan saja nggak nyambung, bisa bahkan mencederai, membelokkan apa yang diinginkan oleh banyak orang dan membawanya ke arah yang berbeda sehingga kemudian lebih sulit untuk meluruskannya.

Dan memang, kalau mau dipikir lebih jernih. Hanya melalui kepentingan yang tidak selaraslah maka semua keganjilan yang sudah jelas-jelas tidak akan menyelesaikan masalah tersebut bisa dieksekusi. Hanya melalui tujuan yang tidak selaras seperti itulah berbagai ketidak selarasan bisa dijadikan selaras.

 

So, kesimpulan?

Saya rasa anda sudah tahu sendiri.

Silahkan dipikir-pikir lagi apakah worthed untuk mengadakan atau mengikuti acara seperti ini, atau mending alokasikan waktunya untuk hal yang lebih jelas.

Dan bersepeda saja secara sederhana, sebagaimana mestinya. setiap hari. Dekat maupun jauh.

Bahkan bila harus sendirian. Bahkan bila tidak selalu fun. Bahkan bila sama sekali tak berhadiah mobil.

Plis deh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s